Page 1 of 8 123 ... LastLast
Results 1 to 20 of 153
  1. #1
    Sesepuh Krucil lily's Avatar
    Join Date
    Jan 2012
    Location
    - 天堂 -
    Posts
    3,505
    Thanks
    7
    Thanked 17 Times in 12 Posts

    Default - Kakek Penjual Amplop di ITB -

    Kisah Kakek Penjual Amplop di ITB. Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah Kakek Penjual Amplop di ITB.

    Kakek Penjual Amplop di ITB


    Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.






    Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

    Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.






    Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.


    Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.






    Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini:
    “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

    Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.


    Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.






    Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

    Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

    sumber : blog Rinaldi Munir

    Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, AMIN.

  2. The Following User Says Thank You to lily For This Useful Post:

    buahpoker (11-17-2013)

  3. #2
    Murid Krucil aranto's Avatar
    Join Date
    May 2009
    Posts
    410
    Thanks
    0
    Thanked 3 Times in 2 Posts

    Default

    Dah pernah baca & semakin ketika baca lagi...

    Thanks sis...
    Posted via Krucil Mobile Device

  4. #3
    Tukang Download
    Join Date
    Nov 2011
    Posts
    11
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    sedih bro..
    jadi malu ama diri gw sendiri yang msuka nyerah ama keadaan gw..

  5. #4
    Tukang Download
    Join Date
    Apr 2012
    Posts
    3
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Mungkin kakek tua penjual amplop itu malaikat bro, sedang menguji kita, sementara kita jarang memperhatikannya.
    Posted via Krucil Mobile Device

  6. #5
    Sesepuh Krucil Pi-Chan's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    Batavia's Sub-Urbs ...
    Posts
    2,149
    Thanks
    99
    Thanked 10 Times in 4 Posts

    Default

    gw sering juga ngelakuin hal kaya gitu .. yang paliiiiiiiiiiiiing nyebelin saat kita mau bantu .. apalagi kondisi model si kakek yg gigih tu ternyata masih banyak gw temuin ... tapi pas lagi cekak ..

  7. #6
    Petualang Krucil
    Join Date
    Oct 2008
    Posts
    1,864
    Thanks
    11
    Thanked 20 Times in 17 Posts

    Default

    wahh,, ini saya pernah ketemu langsung dengan kakek ini waktu saya masih kuliah dan studi banding ke ganesha. dan yang paling berkesan pada waktu itu adalah, tidak seorang pun dari rombongan kami atau bahkan orang2 yg biasa melakukan aktifitas disana yang menyadari keberadaan kakek-kakek tersebut. bahkan saya sendiri

    tapi ada satu orang teman saya waktu itu tiba-tiba nyamperin tuh kakek itu dan nanya "kakek sudah makan" kakek itu menjawab singkat dengan menggelengkan kepalanya, ironis memang bahwa disekelilingnya banyak pedagang makanan dan orang lalu lalang. kemudian teman saya memberi beberapa lembar uang untuk kakek it beli makan. dan kakek itu segera mengambil beberapa amplop yang dipegangnya dan memberikanannya ke teman saya tersebut. kakek itu gak mau menerima uang itu dengan cuma2,, dia memberikan amplop itu sebagai dagangannya.


  8. #7
    Dedengkot Krucil evolta's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    masih ditempat kenangan itu bermula
    Posts
    5,900
    Thanks
    2
    Thanked 139 Times in 39 Posts

    Default

    ya ampun jadi inget kakek penarik becak (dari cerita soalnya saya juga belum lihat orangnya) yang pernah nolong aku waktu kecelakaan sepeda motor parah dulu.
    Ga ada barang yang hilang padahal saat itu saya pingsan.
    Dan ketika saya balik ke tempat itu, tidak ada orang tahu.

    Sampe sekarang kalo misal nubie ga berkutat dengan urusan kantor kadang menyempatkan diri keliling kota naik becak dengan berharap bisa memberi sedikit pemasukan kepada tukang becak disana (harap nya salah 1 dari mereka kakek itu)

    Dan nubie ga akan pernah berani berandai2 misal si kakek itu ga ada disana saat itu.
    Saat jalanan sepi.

    Kakek dimana kamu

    Nb : intinya kita jangan pernah lihat orang dari sampul luarnya, lihat orang dari hati dan perjuangan mereka.
    Merekalah pahlawan sesuangguhnya.


    Posted via Krucil Mobile Device

  9. #8
    Dedengkot Krucil evolta's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    masih ditempat kenangan itu bermula
    Posts
    5,900
    Thanks
    2
    Thanked 139 Times in 39 Posts

    Default

    Dopost
    Posted via Krucil Mobile Device

  10. #9
    Verified Sinden nden_seksi's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Location
    Di Kamar [Kamu]
    Posts
    3,518
    Thanks
    0
    Thanked 11 Times in 10 Posts

    Default

    jadi teringat jaman gw masih jadi kurir tagihan bank....

    selain uang makan yang kagak seberapa, 1 amplop cuma dihargai 50 perak...

  11. #10
    Verified Girl masayu12's Avatar
    Join Date
    Feb 2012
    Location
    in office .
    Posts
    729
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 1 Post

    Default

    very touching ,, i would be more sensitive n more care to other people n always give thankfull to God ..

  12. #11
    Murid Krucil psikosex's Avatar
    Join Date
    Sep 2010
    Location
    medan
    Posts
    107
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post

    Default

    jadi pengen ksana, yuk bro/sis qta BeBar (Beli Bareng) si kakek penjual amplop itu

  13. #12
    Tukang Download
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    7
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Terharu
    Posted via Krucil Mobile Device

  14. #13
    Tukang Download
    Join Date
    Oct 2011
    Posts
    6
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default



    moga aja banyak agan2 di mari yang berkenan absen short time 1x sebulan.buat bantu tuh kakek.

    mungkin ada yang mo jd panitia buat bantu tuh kakek.

    q siap 100 ribu/bulan buat tuh kakek.
    paling ngak mungkin butuh 10 orang lg
    biar tuh kakek hidup nya agak damai dikit di hari tua nya.

  15. #14
    Pendekar Krucil
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    Saat aku minta cahaya, tuhan beri aku matahari..saat aku butuh kebahagiaan, tuhan beri aku kamu.
    Posts
    559
    Thanks
    2
    Thanked 9 Times in 8 Posts

    Default

    menyedihkan sekali ya sist ceritanya
    kakek segitu msh mau bekerja,sudi baginya minta2

  16. #15
    Pendekar Krucil
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    Saat aku minta cahaya, tuhan beri aku matahari..saat aku butuh kebahagiaan, tuhan beri aku kamu.
    Posts
    559
    Thanks
    2
    Thanked 9 Times in 8 Posts

    Default

    makasih low TS uda dikasih cendol
    ane blm iso nich

  17. #16
    Murid Krucil Biji_Mletek's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Posts
    427
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post

    Default

    inspirasi


    thx for share..

  18. #17
    Murid Krucil
    Join Date
    May 2012
    Posts
    155
    Thanks
    30
    Thanked 258 Times in 16 Posts

    Default

    so inspiring.. thanks for the share.. be grateful is important...

  19. #18
    Murid Krucil ngemprutazah's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    jakarta
    Posts
    122
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post

    Default

    salah satu sisi kehidupan yang jarang kita pedulikan di tengah kesibukan dunia
    nice share TS.....

  20. #19
    Pendekar Krucil bang_toyib82's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    DIBAWAH TOKET , DI ATAS PERUT
    Posts
    798
    Thanks
    14
    Thanked 78 Times in 27 Posts

    Default

    dahsyat perjuangan si kakek

  21. #20
    Murid Krucil boxer r68's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Location
    Diatas sadel, Dibawah lobang
    Posts
    131
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Quote Originally Posted by udan View Post


    moga aja banyak agan2 di mari yang berkenan absen short time 1x sebulan.buat bantu tuh kakek.

    mungkin ada yang mo jd panitia buat bantu tuh kakek.

    q siap 100 ribu/bulan buat tuh kakek.
    paling ngak mungkin butuh 10 orang lg
    biar tuh kakek hidup nya agak damai dikit di hari tua nya.
    nubi siap bro, hubungi di 0857 7113 1988 ya bro kalo jadi berger...

    mungkin caranya ssi kasih dia kerjaan kali ya, atur dah bro, nubi siap partisipasi

Page 1 of 8 123 ... LastLast

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  






-->
Site Meter -->